Yang Dinanti dari DJKA

Ramadhan memang luar biasa, sesibuk apapun kita bisa disatukan di ramadhan. Jika hari biasa sangat sulit kita bertemu atau mengadakan suatu acara karena banyak yang beralasan tak bisa hadir. Tapi, di ramadhan semua memiliki waktu yang sama, seperti Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) pada 30 Juni 2016, mengadakan buka puasa bersama di ballroom Mutiara Millenium Hotel Jakarta, Jl. H. Fachrudin no. 3, Kampung Bali, Jakarta Pusat. Buka bersama ini saya hadiri bersama belasan blogger Tau Dari Blogger (TDB), dan beberapa wartawan media. Pukul 16:00WIB seharusnya acara dimulai, saya baru sampai setengah jam kemudian setelah berjalan bersama dua orang teman dari stasiun tanah abang. Setelah dari toilet hotel, saya masuk ruangan yang dimaksud dan ternyata acara baru dimulai lima menit yag lalu.


Acara Buka bersama yang dibungkus dengan diskusi dan tanya jawab ini dimoderator oleh Joice Hutajulu Kepala Humas DJKA dengan dihadiri para petinggi DJKA. Dirjen Perkeretapaian yang dilantik 16 Mei lalu Ir. Prasetyo Boeditjahjono, MM., Direktur Keselamatan Perkeretaapian M. Risal Wasal, ATD, MM., Sesditjen Perkeretaapian Ir. M. Popik Montanasyah, MT., Direktur Sarana Perkeretaapian Marsono Yugihartiman, ATD, M.Sc., Direktur lalu Lintas dan Angkutan Kerepa Api Zulfikri, IR, M.Sc, DEA., media, dan blogger

Dalam suasana mudik lebaran ini, DJKA telah meminimalisir 320 titik longsor menjelang dan sesudah periode mudik dengan antisipasi penuh karena DJKA memiliki target zero accident seperti tahun 2015. Sebelum melakukan perjalanan jauh, DJKA memeriksa semua masinis sebelum bertugas dengan tes narkoba. Dan, semua dipastikan bersih dari narkoba demi mengusung Motto perkeretaapian “Lebih baik tidak berangkat, daripada tidak sampai, demi keselamatan.”

Kereta yang semakin memiliki penggemar ini terus berkembang menjadi lebih baik dan akan ada pembangunan kereta bandara sesuai dengan Perpres no. 83 th. 2000, sejauh 34 km sampai pintu M1. Rencananya akan selesai dan dioperasikan tahun 2017. Pembebasan lahan menjadi salah satu kendala. Kereta bandara Kualanamu – Medan yang telah berjalan akan dilanjutkan pembangunan di Sudirman Baru – Bandara Soeta dengan pembangunan awal adalah stasiun Batu Ceper, Tangerang, Sudirman Baru, dan Manggarai. Proyek ini kerjasama anak PT KAI dan PT Angkasa Pura yakni oleh PT Railink. Kereta bandara yang melewati Batu ceper tidak expres. Sudah direncanakan rute lain untuk kereta expres, perjalannanya akan dijadwalkan setiap 30 menit.

Selain pembangunan kereta bandara, akan dibangun pula Trans Sulawesi sejauh 1500 km yang juga menjadi prioritas pembangunan, Trans Smatera, Trans kalimantan, dan Trans Papua. Untuk Trans Sulawesi konstruksi pembangunannya tidak terlalu sulit, pembangunannya cukup terhambat karena kesulitan finansial pemda Sulawesi untuk pembebasan lahan. Trans Sulawesi Makasar – Pare-pare sepanjang 142 km diharapkan segera selesai dan jasa kereta api bisa semakin luas dirasakan masyarakat Indonesia.

Sedangkan untuk pembangunan Trans Papua yang rencananya akan dimulai pada semester 2 tahun 2016, namun ditunda menjadi tahun 2017, karena masih melihat situasi dan kondisi, bisa dijalankan atau tidak, juga masih diragukan siapa yang akan jadi penumpangnya. Diwaspadai pula daerah rawan longsor dan banjir. Untuk Trans Papua ini membutuhkan biaya sekitar 150 M. Biaya yang tidak sedikit ini benar-benar harus diperhitungkan apakah efek adanya kereta api di Papua akan seperti daerah lainnya yang menjadikan kereta api sebagai moda ransportasi massal yang begitu digemari.

Saya semakin senang mendengar kinerja DJKA sebagai regulator dan PT KAI terus meningkatkan pelayanan. Bayangkan, akan semakin mudah kita menjamah setiap ranah, dengan waktu yang bisa diprediksi. Baiklah, kita tunggu saja.



Komentar