Alokasikan Penghasilan Untuk yang Tak Terduga

Sumber foto Google

Suatu hari saya sedang berbincang dengan ibu, dan beliau bercerita tentang seorang saudara jauhnya di kampung halaman yang termasuk orang berada. Di masa itu bank belum dikenal oleh penduduk sekitar
, sehingga mereka banyak menyimpan uangnya dalam lemari, kotak kayu, atau di bawah bantal. Begitu pula saudara tersebut yang menyimpan uangnya di dalam kotak kayu. Cukup lama beliau tidak menggunakan atau membuka wadah tersebut, hingga suatu hari beliau ingin menggunakan uang tersebut dan membukanya, setelah membuka kotak itu buaknnya senang tapi beliau langsung pingsan, karena ternyata uang tersebut sudah berbentuk serbuk karena dimakan entah binatang apa.

Dari cerita tersebut kita belajar bahwa menyimpan benda berharga harus sering dicek dan juga pastikan tempatnya aman. Nah, untuk saat ini mungkin sudah tidak ada lagi orang yang menyimpan uang seperti yang saya ceritakan di atas, karena saat ini jumlah bank sudah sangat banyak. Enggak cuma uang yang bisa kita simpan di bank, tapi juga surat-surat berharga bisa kita titipkan di bank.

Bicara soal nabung, kenapa, sih, harus nabung?
Hmmm, kalau saya, sih, setuju dengan pendapat seorang teman yang menabung itu biar enggak boros. Saya bukan orang yang mudah ‘lapar mata’ tapi tetap saja selalu ada barang konsumtif yang menggoda dan harganya lumayan tinggi. Biasanya saya lebih memilih menabung terlebih dahulu untuk membeli sesuatu dibandingkan harus mendapatkannya dengan cara kredit. Karena yang saya pikirkan adalah dibanding dengan kredit dan jangka waktu pembayarannya, saya justru akan mendapatkan produk yang lebih terbaru dibandingkan jika saya memaksakan diri membeli produk tersebut secara kredit.

Karakter saya yang seperti itu membuat saya mewajibkan diri untuk rutin menabung, biasanya saya menyisihkan 5% dari pendapatan usaha saya, dan minimal 10% dari penghasilan saya perbulan. Kalau masih berpikir bahwa hanya orang yang memiliki gaji bulanan saya yang bisa menabung, sangat salah besar. Kenyataannya justru yang paling banyak beralasan tidak memiliki uang lebih untuk ditabungkan adalah para pemilik gaji bulanan, karena saya juga pernah merasakan hal tersebut. Tapi, ya, seharusnya menabung itu dijadikan hal wajib, 30% penghasilan kita seharusnya untuk ditabung. Jika dirasa sulit, bisa dimulai dari 5% dari penghasilan bulanan.

Jika kita sudah biasa menabung, jadi tidak terasa untuk menyisihkan sebagian uang kita untuk ditabungkan, malah jadi seperti mengganjal karena belum melakukan sesuatu. Mulai dari sekarang juga enggak masalah, daripada enggak memulai sama sekali, kan, ya. Hihihi.... Dan, kalau takut uang tabungan kepake terus, patahin aja ATM-nya, biasanya kita males kan buat antri di bank apalagi Cuma buat ambil duit seratus ribu.

Kalau suka jalan-jalan atau memiliki hobi yang cukup mahal, ada baiknya memiliki beberapa rekening di bank, enggak harus di satu bank, buat saja di bank yang berbeda. Misalnya tabungan di bank A khusus hobi, di bank B khusus untuk masa depan, di bank C khusus untuk biaya tak terduga, dan karena banyak rekening lebih baik pengalokasian dana tabungannya dibagi rata, misal masing-masing rekening dijatah 5% dari penghasilan, atau 30% penghasilan dibagi rata di setiap rekening, jadi semua rekening akan bertambah saldonya setiap bulan. Mungkin awalnya banyak godaan datang yang membuat kita semakin mengurangi jumlah alokasi dana untuk tabungan, karena itulah diperlukan konsistensi juga dalam hal menabung. Enggak perlu takut punya banyak rekening di bank, semuanya dijamin sama LPS. Lps itu, kan, lembaga independen yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Berikut alur pengurusan bank gagal sistemik dan non sistemik.

Dok. LPS

Dok. LPS

Oh, ya, bedakan antara pelit dan hemat, pelit adalah tidak mau mengeluarkan uang yang bahkan untuk kebutuhannya sendiri, tapi hemat adalah mengeluarkan uang sesuai dengan kebutuhan dan lebih memilih menyimpan kelebihannya untuk hal yang lebih penting. Semoga mulai sekarang kita semakin rajin menabung dan bisa mengontrol keinginan untuk memakai uang guna sesuatu yang tidak penting.

Dok. LPS

Komentar

  1. Waaaahh.. Iya, orang dulu suka nyimpennya di lemari, sarung bantal atau di dalam bumbung dari bambu. Kalau ilang syediiihhh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak, kalau hilang atau rusak kan gak ada yang nanggung ya.

      Hapus
  2. Aku masih nyimpen receh di kotak makan besar nih... Ahahah. Lumayan kalo dibutuhin tiba2 udah banyak aja jumlahnya

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih jika anda berkenan meninggalkan komentar. Akan saya komen balik di blog Anda. Salam. :)