Hemat Energi untuk Energi Berkeadilan


Teman-teman tahu energi, kan? Energi kalau menurut Kamus Besar Bahasa Idonesia itu daya yang dapat digunakan untuk melakukan berbagai proses kegiatan. Di kehidupan sehari-hari ini kitaselalu menggunakan energi, baik dari diri sendiri maupun energi yang menggunakan bahan, seperti menyetrikan pakaian yang menggunakan enegi listrik yang berubah menjadi energi panas, dan untuk menjemur pakaian kita menggunakan energi di dalam diri untuk mengangkat pakaian, untuk mengeringkannya kita menggunakan energi panas yang langsung didapat dari matahari, dan masih banyak sekali hal-hal lain yang kita lakukan menggunakan energi.

Tantangan ketenagalistrikan
  • Jumlah penduduk 250 juta jiwa.
  • Pada 2016 kapasitas terpasang pembangkit listrik sebesar 57 GW.
  • Dengan jumlah rumah tangga 64 juta.
  • Rasio elektrifikasi 91%.
  • Rumah tangga belum berlistrik sebanyak 5,8 juta berdasarkan data kependudukan BPS (Badan Pusat Statistik) di tahun 2016.
  • Data BPS 2014 mencatat 2.500 desa gelap gulita.

Jika mematikan lampu selama 1 (satu) jam saja dalam satu hari, untuk wilayah Jakarta saja itu artinya sudah berhemat sebanyak Rp 260 juta. Dan, jika mematikan selama 4 (empat) jam setiap harinya selama 10 (sepuluh) hari dalam kurun waktu 1 (satu) bulan, itu setara dengan 1 (satu) MW PLTU (Pembangkit Listrik tenaga Uap).

Seperti yang disampaikan Bapak Jonan bahwa, “Penyediaan listrik harus efisien agar subsidi listrik tidak membebani APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), dan masyarakat mendapatkan tarif listrik yang lebih baik. Arah subsidi energi dalam APBN harus turun, untuk pembangunan yang lebih adil dan merata.”

Seperti yang direncanakan oleh APBN, di 2012 subsidi energi sebesar Rp 306 triliun dan paling tinggi subsidi di tahun 2014 sebesar Rp 342 triliun, dan direncanakan terus menurun setiap tahunnya. Tahun 2017 ini direncanakan subsidi energi hanya sebesar Rp 77 triliun. Begitupun pada subsidi listrik, tahun 2017 ini direncanakan subsidi hanya sebesar Rp 45 triliun yang ddi tahun 2016 sebesar Rp 59 triliun.

Bapak Aliudin Sitompul menjelaskan tentang kondisi kelistrikan Indonesia: Upaya pemerataan akses listrik. Energi dalam kehidupan ini sangat banyak macamnya dan kita gunakan sehari-hari. Contohnya saja di zaman dahulu, manusia menggunakan energi dari dalam tubuhnya untuk mencari makan dengan berburu, lalu untuk bepergian atau membajak sawah menggunakan tenaga hewan, seperti kuda, kerbau, atau sapi. Di zaman sekarang ini semua kebutuhan hidup manusia sudah dimudahkan oleh berbagai bentuk energi, untuk bepergian saat ini menggunakan kendaraan bermotor, begitupun untuk membajak sawah sudah menggunakan traktor, bukan lagi tenaga hewan. Namun pada akhirnya semua energi itu akan habis, iya, Uranium, Gas, Minyak, dan Batu bara.

Bapak Aliudin Sitompul

Energi sangat berperan penting bagi kehidupan, terutama dalam hal peningkatan taraf hidup yang menjadi penunjang berbagai aktifitas. Jika dahulu belum ada listrik, untuk belajar harus menggunakan cahaya temaram lilin atau lampu minyak, sedangkan saat ini dengan listrik, belajar bukan hanya dengan cahaya yang lebih terang dan nyaman di mata tapi juga bisa menggunakan berbagai teknologi seperti komputer. Di wilayah pedesaan, pembangunan listrik yang dibangun oleh Ditjen EBTKE (Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian ESDM) diantaranya PLTS (Pembangki Listrik Tenaga Surya) terpusat di Lampung, dan pembangkit listrik hybrid di Riau. Untuk infrastruktur ketenagalistrikan yang pernah dibangun Ditjen Ketenagalistrikan atau yang menggunakan dana PMN (Penyertaan Modal Negara) / APLN diantaranya Sumatera Utara, Papua, Bali, Kalimantan Barat, dan Maluku Utara.

Pada sistem tenaga listrik, produksi setiap detik ditentukan oleh permintaan pada detik itu agar tegangan dan frekuensi dapa dijaga tetap konstan. Gambaran umumnya adalah dari Pembangkit sebagai Penyedia, melalui Transmisi sebagai penyalur dan sampailah kepada permintaan konsumen. Oh, ya, kita pasi pernah merasakan pemadaman bergilir, kan? Buat teman-teman yang pernah merasakan itu, ternyata itu adalah cara PLN untuk tetap menjaga Travo dari ledakan karena penyaluran yang terlalu besar.

Salah satu tujuan pembangunan nasional dalam hal ketenagalistrikan adalah tersedianya listrik yang cukup, kualitasnya baik, dan dengan tarif yang wajar, hingga diharapkan akan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, ratanya materiil, dan kebutuhan spiritual. Untuk saat ini penyediaan tenaga listrik nasional terpasang 59.656 MW berasal dari:
  • PLN (Perusahaan Listrik Negara): 41.049 MW
  • IPP (Independent Power Producer): 13.781 MW
  • PPU (Private Productions Utility): 2.434 MW
  • IO (Izin Oprasi) non BBM: 2.392 MW

Produksi listrik sebesar 290 TWh, sedangkan konsumsi sebesar 247 TWh. Panjang transmisinya itu sendiri 49.799 kms, panjang distribusinya sangat berkali lipat, yaitu sepanjang 945.101 kms. Untuk konsumsi per kapita sebanyak 959.46 kWh. Konsumsi listrik terbanyak adalah dari sektor industri sebesar 40%, disusul sektor rumah tangga sebesar 38%, kemudian bisnis sebanyak 16%, dan yang paling sedikit konsumsi listrik adalah publik sebesar 6%.

Energy mix adalah energi di masa depan, energi yang menjadi masukan dalam pengambilan keputusan, diketahui juga jenis, lokasi, dan berapa banyak ketersediannya. Di Indonesia tercatat 4 (empat) energy mix:
  • Batu bara sebanyak 55%
  • Gas sebanyak 26%
  • EBT (Energi Baru Terbarukan) sebanyak 12%
  • BBM sebanyak 7%

Dengan hestek #EnergiBerkeadilan dan #Potong10Persen, Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) mengampanyekan program hemat energi potong 10 persen untuk energi berkeadilan. Faktanya 87% total energi nasional dinikmati oleh mayoritas masyarakat perkotaan. Lebih dari 2.500 desa di Indonesia masih gelap gulita. Untuk itu kita diimbau untuk melakukan gerakan penghematan energi mulai sekarang, dimulai dari diri sendiri seperti:
  • Matikan lampu dan peralatan elektronik yang tidak sedang dipakai.
  • Hindari alat elektronik dalam posisi stand by dan cabut colokan dari saklar, seperti casan ponsel yang harus dicabut jika sudah selesai digunakan.
  • Jadikan hemat energi sebagai gaya hidup sehari-hari.

Ibu Gita Lestari menjelaskan lebih jauh tentang potong 10%, manfaat dari kita menerapkan ebiasaan tersebut adalah:
  • Hemat listrik artinya kita juga hemat biaya.
  • Hemat listrik berarti menjadi konsumen cerdas.
  • Hemat listrik akan mendukung energy berkeadilan, yang dimaksudkan menyalakan listrik di daerah yang belum memiliki akses listrik.
  • Hemat listrik anak meminimalkan emisi karbon dioksida dari pembangkit listrik bahan bakar fosil, dan menjadi ramah lingkungan.

Ibu Gita Lestari

Kita harus hemat energi supaya enggak balik lagi seperti zaman dahulu, iya, kembali menggunakan tenaga hewan untuk kebutuhan hidup, seperti berkendara dan membajak sawah. Sering kali kita enggak sadar sudah boros energi, coba diingat-ingat, kalau tidur nyalain kipas angin/AC tapi kitanya tetap selimutan, kan, niatnya biar dingin, tapi malah selimutan karena alasan kedinginan.


Jadi …, save energy sekarang atau gelap gulita?




Enam orang yang akan ke Denpasar, Makasar, & Balikpapan

Pemenang Live tweet

Generasi hemat energi

Komentar

  1. setuju mbak, kita harus hemat energi untuk kelangsungan bersama
    salah satunya saya sendiri kalo malam, biasanya tidur ya matiin lampu/off-in perangkat yang berkaitan dengan listrik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas, emang dimulai dari diri sendiri.

      Hapus
  2. iya bgt nih. energy yg tdk dimanfaatkan sebagaimana porsinya maka akn menipis dan yg rugi, ya seluruh masyarakat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo habis, balik lagi kita ke zaman purba

      Hapus
  3. Musti, harus, kudu dan wajib hemat energi untuk anak cucu kita. Dengan hemat energi kita juga bisa menghemat pengeluaran untuk pembayaran listrik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Bu. Lumayan banget, TDL juga naik terus soalnya.

      Hapus
  4. Terkadang fasilitas memang membuat kita terlena. Seperti diriku yang masih sering boros listrik. :(

    Terimakasih info yang sangat bermanfaat ini, mbak Widya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, secara enggak sadar kita Boris liatrik ternyata.

      Hapus
  5. pakai energi secukupnya, saya juga sering matiin lampu kamar atau ruang tamu kalau memang tidak dipakai, gak apa2 agak gelap juga biar hemat

    BalasHapus
  6. Ternyata ga mudah lho mendisiplinkan diri untuk hemat energi terutama listrik dan air. Hampir semua alat rumah tangga memakai listrik, belum lagi lampu dan tv yang sering banget menyedot listrik banyak. TV dan lampu nyala eh orangnya tidur. Memang hrs sadar sesadar-sadarnya untuk #potong10%

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nonton TV ketiduran, jadinya malah ditonton tivi.

      Hapus
  7. Baru tau kalo pemadaman bergilir tujuannya seperti itu. Lumayan sering sih pmadaman.

    BalasHapus
  8. hemat hemat..... yang penting hemat kalo gak punya penghasilan tembahan.... kalo ada rezeki lebih bisa dipake buat yang laen...

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih jika anda berkenan meninggalkan komentar. Akan saya komen balik di blog Anda. Salam. :)