Laba Bukan Uang Anda


Untuk yang baru membuka usaha kecil-kecilan biasanya keuangan untuk pribadi dan usaha masih belum jelas terpisah. Tidak jarang para pelaku usah asal ambil uang dari hasil usaha untuk kebutuhan pribadinya tanpa menghitung dahulu apakah jika uang hasil usaha ini digunakan, semua akan baik-baik saja? Apakah tidak apa-apa jika terus-terusan menggunakan uang hasil usaha untuk keperluan pribadi?

Nah, kalau menggunakan uang hasil usaha untuk keperluan pribadi, baiknya harus sesuai perhitungan. Jangan sampai keuangan usaha anda defisit. Pastikan uang yang anda gunakan adalah bagian dari laba, bukan modal. Tidak sedikit usaha yang bangkrut karena keteledoran pemilik, dia pikir sudah dapat banyak uang dari hasil usahanya, tapi dia lupa untuk menghitung dan memisahkan mana biaya operasional dan mana laba.

Jika setiap ada keperluan kita mengambil uang yang bukan simpanan, bisa dipastikan usaha kita akan semakin lemah, karena tidak disadari kalau modal semakin terpotong dengan kebiasaan buruk kita itu. Terus gimana caranya biar kebutuhan terpenuhi dan usaha aman?

Nah, ditegaskan lagi, tentang kebutuhan.
  • Hitung semua uang yang didapat dari hasil usaha. Hitung omzet dan semua biaya operasionalnya dengan jelas, bisa dibuat sederhana saja asal keterangannya jelas, antara uang masuk dan uang keluar.
  • Setelah didapat laba, baru, deh, ketahuan berapa dana yang mungkin aman untuk dipakai. Kenapa dibilang mungkin aman? Karena laba itu adalah cicilan pengembalian modal, bukan murni uang dingin yang bisa digunakan semaunya.
  • Pisahkan 30% untuk ditabung dalam bentuk uang di bank atau membeli logam mulia. Bebas saja mau disimpan bagaimana, yang penting 30% harus rutin dan konsisten setiap bulannya. Sebisa mungkin hanya digunakan disaat genting.
  • Buat daftar kebutuhan, ingat, ya, kebutuhan bukan keinginan. Jika memungkinkan kebutuhan hanya mengambil 50% dari laba. Kebutuhan itu seperti kita butuh makan, keinginan itu kita ingin makan gado-gado. Paling penting adalah daftar kebutuhan primer, sekunder masih bisa ditahan. Bukannya pelit, ya, tapi kita berhemat, mungkin sulit di awal tapi akan lebih sulit kalau kita enggak punya uang bahkan untuk kebutuhan. Hihihi.
  • Laba jadi modal. Di atas sudah dipakai 80% dari laba, lalu 20%-nya bisa dipakai untuk menambah modal, misal menambah jenis produk atau menambah kuantitas produk yang laku keras.


Itu tahapan yang---pernah---saya lakukan, bisa disesuaikan lagi dengan kondisi masing-masing untuk penggunaan 70% laba, jangan dikurangin persentase untuk simpanannya. Kenapa simpanan enggak boleh dikurangin dan konsisten? Karena kita enggak pernah tahu apa yang akan terjadi di detik berikutnya. Jadi, lebih baik berjaga-jaga, kan, kalau bingung mau investasi dalam bentuk apa, mendingan tabungin aja di bank. Sudah pasti simpanan kita aman dari pencurian, atau hilang karena lupa naro di mana. Lagian makin tenang soalnya dijamin sama LPS.

LPS yang adalah lembaga independen ini yang akan menyelamatkan rupiah-rupiah kita di bank, andaikan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada bank tempat kita menyimpan uang. Selama bank kita terdaftar di LPS, semua nasabahnya pasti nyaman. Semoga rezeki kita semua lancar begitu juga dengan usaha yang kita jalanin, ya, Gaes. Jangan lupa konsisten!

Komentar

  1. Meskipun bukan pemilik usaha, tapi info di postingan ini bermanfaat sekali. Terimakasih sharingnya :)

    BalasHapus
  2. Iya mba sepakat sama tulisan ini, aku jualan juga masih belum bisa mengelola keuangan dengan baik dan memang tidak bisa membedakan antara modal dan kebutuhan dan laba *penyakit banget hahha

    BalasHapus
  3. Bener-bener harus disiplin ya buat menjaga keuangan pribadi vs bisnis biar usaha tetep berjalan baik ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak, mesti konsisten yg penting.

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih jika anda berkenan meninggalkan komentar. Akan saya komen balik di blog Anda. Salam. :)