Buku: KITU Kucing Kecil Bersuara Ganjil


Judul Buku: KITU Kucing Kecil Bersuara Ganjil
Penulis: Sekar Sosronegoro
Penerbit: Buah Hati
ISBN: 978-602-7652-93-4
Cetakan: Pertama, Juli 2017
Tebal Buku: Sampul + 32 halaman

Salah satu dari sekian banyak buku anak-anak yang ada di Indonesia, namun kali ini bertema toleransi, tema yang masih sulit ditemui padahal toleransi sendiri adalah penting dalam keseharian. Seperti judulnya, tokoh utamanya adalah seekor kucing yang minder dengan kondisi fisiknya. Melihat teman-temannya memiliki apa yang tidak dia miliki membuat Kitu takut untuk bersosialisasi. Tapi, yang mengejutkan adalah semua temannya memiliki keunikannya sendiri seperti halnya Kitu. Jangankan Kitu, saya pun terkadang masih membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Hmmm.

Buku ini hadir bukan sekadar untuk anak-anak, tapi ada pelajaran penting di sana. Sesuai serinya “Mengenal Perbedaan”, di sini kita diajarkan untuk toleransi, betapa pentingnya toleransi. Nah, apa, sih, toleransi itu? Menurut saya pribadi toleransi adalah sikap menghargai dan menghormati pemikiran dan kondisi orang lain. Lagi pula, bukankah perbedaan itu yang memberi warna sesungguhnya?!

Saat launching buku ini di @america pada 20 Juli 2017 yang mengusung tema Our Children and Tolerance, selain penulis juga hadir Najelaa Shihab, Dira Sugandi, Nia Dinata, Suzy Hutomo yang merupakan Chairwoman The Body Shop, Mira Tulaar sebagai ilustrator, dan Siti Nur Andini yang menjadi editor. Menurut penulis sendiri toleransi adalah tidak mengotak-ngotakkan sesuatu. Dira Sugandi mengatakan toleransi itu menerima, menghargai, dan menghormati bahwa orang lain itu berbeda dengan kita. Toleransi adalah merayakan perbedaan, kalimat yang terucap dari Suzy Hutomo. Menurut saya tepat sekali ketika Najelaa Shihab berpendapat kalau toleransi adalah memahami bahwa orang lain juga punya definisi toleransi sendiri.

(Ki-ka): Sogi Indra Dhuaja, Najelaa Shihab, Dira Sugandi, Suzy Hutomo, Sekar Sosronegoro, dan Nia Dinata.

Kalau orang dewasa ingin mengajarkan toleransi pada anak-anak, sudah seharusnya menghapus label-label pada orang lain, contohnya bilang bahwa tetangganya miskin karena malas bekerja, temannya tidak mengerjakan PR karena bodoh, dan label-label negatif lainnya. Sering kali anak-anak mengajukan pertanyaan yang bikin orang tuanya bingung mau jawab apa. Penting banget, nih, menurut Najelaa Shihab setiap pertanyaan yang diajukan anak-anak pada orang dewasa itu enggak selalu membutuhkan jawaban. Terkadang mereka hanya butuh persetujuan saja.

Agar apa yang disampaikan orang dewasa pada anak-anak dapat dipahami, harus diperhatikan intonasi ketika berbicara, karena intonasi itu penting banget untuk bicara dengan anak-anak. Kalau mau memberi nasihat jangan pakai intonasi tinggi, sampaikan dengan lembut, jika anak-anak melakukan kesalahan bukan dimarahi tapi diajak ngobrol, bicara dengan lembut, agar anak-anak tidak merasa diintimidasi. Sebelum kita memaksakan pendapat kita tentang toleransi, harus berpikir dahulu bahwa setiap orang juga memiliki pemikirannya masing-masing. Dengan kondisi yang berbeda pasti menciptakan perilaku yang berbeda.

Buku KITU ini menurut saya ringan banget, cocok untuk media belajar tentang toleransi, tentang perbedaan bagi anak-anak, layaknya buku anak ilustrasinya dibuat mendominasi sehingga cukup jelas menggambarkan apa yang ingin disampaikan penulis. Pembuatan bukunya pun penuh toleransi, kenapa? Soalnya penulis, ilustrator, dan editor berada di 2 negara dan 3 kota dengan perbedaan waktu. Sekar di Los Angeles, Mira di Bali, dan Andini di Jakarta. Sekar mengaku bahwa sudah sejak lama ingin membuat buku toleransi ini namun baru bisa terwujud sekarang. Untuk yang mau milikin buku KITU ini bisa beli di Gramedia, Gunung Agung, Tmbookstore, Togamas, tokobaca.com, bukukita.com, dan Tokopedia.

(Ki-ka): Mira Tulaar, Sekar Sosronegoro, dan Siti Nur Andini.

Website: www.bukutoleransi.com
Facebook: facebook.com/bukutoleransi
Instagram: @bukutoleransi
Twitter: @BukuToleransi

Komentar

  1. Wah harus beli buku ini nich supaya Mas dan Dede bisa baca. Apalagi tokoh utamanya kucing, hewan favorit mereka.

    BalasHapus
  2. toleransi emang perlu dikenalkan sejak dini. ini ni yg menurutku perlu biar gak ada lagi kasus pembulian. buli2 gt kan karena berbeda.. berbeda dikit jadi bahan gunjingan. kebawa sampek dewasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaa. Pada gak diajarin makna semboyan NKRI.

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih jika anda berkenan meninggalkan komentar. Akan saya komen balik di blog Anda. Salam. :)