Marahlah Dengan Elegan

Kehidupan itu ada banyak pilihan, terserah mau pilih mana, bebas, asal nantinya bisa terima akibatnya. Hidup itu sebab-akibat, kalau kita berbuat baik ke seseorang, pasti nantinya kita akan dapat balasan yg jauh lebih baik, minimal satu level di atas kebaikan yang sudah kita lakukan. 

Balasannya enggak melulu melalui orang yang kita bantu, tapi bisa dan bahkan sering kali melalui orang lain. Sayangnya banyak yang enggak sadar, misalnya si A bantu si B lalu suatu ketika si C membantu si A, tapi si A bukannya berpikir bahwa itu buah dari kebaikan yang pernah dilakukan, malah membicarakan si B yang katanya tidak tahu balas budi. Huhuhu

Namanya manusia, ya, pasti ada aja saat-saat seperti itu, kan, aku juga pernah, apa sering, ya. Hahahha. Baru sadar Allah itu baik setelah semua berlalu, baru bersyukur dan merasa berdosa. Hixhix. Apalagi aku suka mikir aneh-aneh tentang seseorang, kadang kesan pertama seseorang aja bikin aku males deket-deket dia, berharap enggak pernah punya urusan atau acara penting yg mengharuskan keterlibatan orang itu. Hihihi


Believe it or not, dalam waktu kurang dari 5 menit aku bisa membenci seseorang, tanpa sebab yang jelas, ya, semacam ada khayalan yang terlintas. Hahahhaha. Tapi kalau ada yang baca ini, percayalah aku ini baik, lho, seriusan. *uhuk

So, kalau misalnya aku sebel nih sama sikap seseorang atau marah sama kelakuan dia, yang aku lakukan cuma tarik napas dalam-dalam, banyakin pertukaran oksigen baru, sambil bayangin oksigen atau udara segar masuk ke sela-sela otak dan menggenggam erat hati. Biar rasanya otak yg panas jadi dingin, dan hati yang udah gedeg banget jadi perlahan melepas beban, efeknya ke detak jantung yang jadi normal. Hahaha. Enggak tahu secara biologinya kayak gimana, itu sih sugesti aku aja.

Terus kalau udah tenang, aku bakal mikirin kemungkinan-kemungkinan yang membuat mereka bersikap atau melakukan hal yang bagi aku itu enggak menyenangkan. Jadi, biasanya aku memikirkan beberapa hal misalnya Mbak Resepsionis yang ekspresinya datar terkesan jutek, anggap aja dia lagi berantem sama pacarnya, atau dia lagi stres belum bayar uang kos. Terus teman yang suka nanya-nanya hal pribadi yang gak penting, buat aku sih itu ngeselin, ya, bukan urusan dia juga, kan. Nah, kalau yang kayak gitu aku anggap aja dia kurang perhatian keluarganya. Yup, itu berkaitan banget, lho. Trust me.


Dulu, kalau aku marah, yang terpikir pasti hal-hal jelek, kalau sekarang aku lebih cuek aja, bisa dibilang enggak peduli dan berpikir positif aja, biar enggak menimbulkan penyakit hati. Hahaha. Itu kalau aku marah sama orang lain, tapi kalau marah sama diri sendiri, aku baca komik aja yang lama atau dengerin musik. Enggak menjamin lupa, sih, seenggaknya kejengkelan itu mereda. Hihihi.


Setiap orang pasti punya cara berbeda, ya, ada seorang teman yang kalau marah, dia ke kamar mandi dan ceburin mukanya ke bak air, ada juga yang ambil wudhu biar adem katanya. Sebenarnya enggak ada yang salah dan banyak cara, selama enggak menyakiti diri sendiri dan orang lain, ya, wajar, ya menurutku. 

Satu lagi caraku buat berdamai dengan diri sendiri, pokoknya berhubungan dengan buku. Entah ke toko buku, bongkar koleksi yang mungkin aku mau baca lagi, cek tumpukan buku yang belum tersentuh, atau menulis di buku diary. Yup, aku masih punya buku diary, lho. Hahaha. Rasanya lebih leluasa mau marah-marah di sana, sebut nama dan ngata-ngatain. Dijamin enggak akan ada yang share atau screenshoot. Paling apesnya kalau ada yang baca dan kenal sama orang yang diomongin, terus dia ember. Tapi, percayalah, peluangnya itu kecil banget. Diary enggak cuma buat curhat, tapi bisa sekalian bikin puisi atau bikin fiksi mini, khayalan tentang aku sama si mamas cilok. *ehem


Kalau lagi marah, daripada curhat di dunia maya, mendingan di buku diary, jauh lebih aman dan nyaman untuk semua. Jadi, itu caraku menenangkan hati, gimana dengan kamu?


Komentar

  1. Klo lagi marah atau kecewa biasanya mah nyari chattime, kalau sekaramg. Dulu waktu blm ada chattime, pas bete tingkat dewa, ya lgsg ngacir ke kedai es teler. Biasanya sih manjur. Berhasil menetralisir perasaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi diingininnya mesti dari dalem ya mak. Hahaha

      Hapus
  2. aku sukaaa aku sukaaa... quotenya bagus bagus, cari di mana itu

    BalasHapus
  3. ealah, aku juga lari ke makan - ngopi dan tidur ... abis itu ngedoodle

    BalasHapus
  4. Masih banyak kulihat, kalau ada yang emosi, trus ke medsos, duh sedih saya bacanya. Sedih karena dia ternyata enggak punya tempat yang baik untuk menyalurkan masalahnya. Kecuali, masalah yang umum, help me, cara matiin komputer gimana yaaa? hehehee.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakwakwak, cabut aja kabelnya, kalo laptop, cabut aja baterainya.
      Iya mbak, pada ngomel2 di status ya

      Hapus
  5. Kalau aku yah, aku tuh gampang marah kalau udah kesenggol omongan

    benciiii

    syulit banget sembuhnya

    nah, biar bencinya enggak keterusan, aku enggak deket2 dech dan enggak mau tahu sama ybs plus lebih menyibukkan diriii

    BalasHapus
  6. Kalau saya lagi marah bawaannya pengen nonton youtube yang lucu-lucu, atau makan es krim :D
    Saya juga sering tuh mba ngerasa orang-orang yang saya temui terlalu jutek padahal bisa aja karena mereka lagi ada masalah atau lagi datang bulan yak :P

    BalasHapus
  7. Iya mbak kadang kita marah ga. Isa kontrol ya. Termasuk aku. Aku marah seringnya ngomel2 gak jelas... Dan suka nyesel sendiri, karena suamiku jadi ya lebih gede marahnya duhh..

    BalasHapus
  8. Dan semakin bertambah usia, Raisa belajar menahan emosi. Mulai dari emosi ringan sampe emosi tingkat tinggi hahaha. Marah dengan Elegan itu jadi hal yang dilakukan kalo kezelnya udah keubun ubun. Bidadari kan nggak gampang marah. Eaaaa.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih jika anda berkenan meninggalkan komentar. Akan saya komen balik di blog Anda. Salam. :)