Bela Negara Dimulai dari Kita

Membela negara itu suatu kewajiban sebagai warga negara. Indonesia dengan keberagamannya bisa mempersatukan atau bahkan memecah belah persatuan. Lalu, bagaimana kita membela negara? Haruskah angkat senjata? Ikut berperang melawan penjajah? Hmmm. Mungkin benar angkat senjata dan ikut melawan penjajah, tapi dalam arti yang berbeda.

Ayo Bela Indonesiaku itu tagline kampanye untuk membela negara yang bertujuan menggerakkan masyarakat terutama Generasi Y dan Generasi Z untuk tetap menjaga semangat bela negaranya tetap bergelora dan menyala.

Dihadiri Prof. Dr. Ir. Bondan Tiara Sofyan, M.Si. – Dirjen Pothan, Kemhan, Republik Indonesia, Brigjen TNI. Tandyo Budi Revita, S.Sos. – Direktur Bela Negara, Ditjen Pothan Kemhan, Republik Indonesia, Karina Nadila – Putri Pariwisata Indonesia 2017, dan Dimas Beck – Artis dan Pemerhati HIV/AIDS. Mengampanyekan kegiatan yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh Direktorat Bela Negara di bawah naungan Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia di Wayang Bistro 6 Maret 2019.

(Ki-ka): Bpk. Tandyo, Karina Nadila, Ibu Bondan, dan Dimas Beck (dok. Pribadi)

Bela negara bukan hanya dilakukan TNI tapi kita semua sebagai warga negara. Indonesia itu memiliki keberagaman, mulai dari suku, agama, sampai kebudayaan. Jadi, negara harus kita jaga keberagamannya, tetap menjadi besar dan luas tidak terpecah-pecah. Pertahanan itu menjaga kedaulatan, menjaga keutuhan wilayah, dan menjaga keselamatan bangsa.

Ancaman negara adalah fisik dan non fisik. Kalau fisik itu penjajahan dalam bentuk peperangan, sedangkan  non fisik itu ancaman dari dalam, seperti adu domba dan hoax yang membuat terpecah-pecah. Sistem pertahanan rakyat semesta, TNI bersama seluruh rakyat mempertahankan negara. Tahun 1988 ada surat edaran yang meregulasikan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara, yang kemudian diikuti seluruh kementerian.

Sebagai warga negara, kita punya hak dan kewajiban, keduanya ada dalam UUD. Mulai dari hak hidup, hak mendapat pendidikan, sampai hak untuk tidak diperbudak. Kewajiban sebagai warga negara dimulai dari taat hukum sampai ikut serta dalam pembelaan negara. 

Bela negara enggak akan pernah selesai, karena ancaman terus datang, bukan cuma Indonesia tapi di semua negara. Pola bela negara sudah berubah di generasi millennials. Kalau dulu angkat senjata dan ikut perang, sekarang juga, tapi berbeda makna seperti yang aku bilang sebelumnya. Kita semua bisa bela negara melalui profesi, seperti menyampaikan berita-berita baik lewat blog. Berita di media massa yang tidak berisi adu domba, itu juga termasuk bela negara.

Bapak Tandyo menyampaikan bahwa ancaman negara selalu berubah, ancaman saat ini bisa membuat kita meninggalkan nilai-nilai ke-Indonesiaan, ini lebih horor dari zaman oenjajahan Belanda dan Jepang masa lalu.  Seperti Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia ada 17.000 pulau, dengan isinya yang beragam. Ancamannya itu banyak sekali, karena Indonesia ini negara yang besar, jadi pembelaan negara bisa dilakukan dengan cara berperan aktif melalui pendidikan, moral, sosial, sampai peningkatan kesejahteraan.

Sejak kecil, Karina ingin apa yang dia ucapkan itu didengarkan orang, bisa memengaruhi orang banyak, makanya Karina berjuang sampai pada posisinya saat ini. Karina yang selalu membawa nama Indonesia di dalam dan luar negeri, dia tahu bahwa orang-orang itu mendukung Indonesia, walau enggak tahu siapa nama perwakilan dari Indonesia. Hal itu termasuk membela negara yang telah ia lakukan, Karina pun tahu bahwa Pageant lovers bersatu, berdaulat mendukung Indonesia.

Karina juga  tergabung di komunitas 1000 guru, kegiatan travelling yang bukan cuma travelling tapi juga berbagi dengan mengunjungi daerah 3T (terluar, tertinggal, terdepan). Timor Tengah Selatan, tempat pertama yang didatangi Karina, dan mengejutkan banget, kalau ternyata penduduknya enggak tahu bahwa mereka tinggal di negara Indonesia, mereka hanya tahu daerah tempat tinggalnya sendiri.

Suatu kali Karina bertanya ke salah satu anak, “Mau jadi apa saat besar nanti?” dan anak itu menjawab, “Aku mau jadi Ibu.” Lho, ibu apa yang dia maksud? Ibu guru kah? Ibu polisi? Dan, hal yang bikin bangga sekaligus miris bagi Karina adalah anak itu menunjuk ibunya sendiri. Ya, karena saking kurangnya pengetahuan mereka tentang profesi.

Kegiatan yang dilakukan Karina adalah untuk memperkenalkan mereka tentang dunia luar, membuat mereka mau keluar dari daerahnya untuk mencari ilmu, dengan harapan mereka akan kembali ke dan membangun kampungnya menjadi lebih baik.

Dimas Beck membela negara dengan cara menggalang dana untuk membantu mereka yang kesulitan, saat ini sedang melakuakan penggalangan dana untuk di Solo namanya Rumah Lentera, bentuknya itu rumah biasa, cuma di sana menampung anak-anak pengidap HIV/AIDS yang ditolak oleh sekolah-sekolah dan enggak tahu harus ke mana pun bagaimana. Kasus ini kayaknya sudah banyak yang tahu, ya, karena sempat ramai juga menjadi pemberitaan di media elektronik.

Bapak Puger menampung mereka, beliau adalah juru parkir, di sini Dimas Beck membantu menggalang dana sebesar 20 juta, dan terkumpul dalam waktu 18 jam. Setelahnya, Dimas Beck meningkatkan dana sebesar 100 juta, dan terkumpul dalam waktu satu minggu, luar biasa, ya, kekuatan public figure dan kemauan pastinya.

Dimas yang berlatar belakang pendidikan marketing, menggunakan ilmunya banget untuk campaign-campaign yang dia buat, itulah mengapa pendidikan penting, bukan masalah ijazah, tapi pendidikan membuat kita jadi sistematis, lebih teratur pun. Harusnya kita kayak Dimas Beck, bukan membicarakan dapat kerjaan apa, tapi langsung ke apa yang mau kita kerjakan. Dimas ini bisa banget dijadikan contoh, dari apa yang dilakukan untuk bela negara dan bagaimana dia memahami Indonesia melalui cerita-cerita dari keluarganya di Purwokerto.

Cinta Indonesia adalah nilai pertama dari Bela Negara. Oh, ya, kita enggak ada wajib militer, karena biaya untuk itu sangat banyak. Makanya bela negara enggak melulu melalui kemiliteran, tapi juga melalui profesi. Bela negara itu sendiri ada  empat cara:

1. Pendidikan tentang kewarganegaraan
2. Latihan tentang kemiliteran
3. Berprofesi sebagai TNI
4. Bela negara sesuai profesinya

Bela negara menjadi suatu kewajiban setiap masyarakat, dan, kenapa memilih Dimas Beck dan Karina Nadila sebagai icon Bela Negara? Karena, apa yang mereka lakukan dampaknya luar biasa untuk Indonesia sehingga mereka pantas untuk diapresiasi.

(dok. Diah Woro)

Kamu!
Sudah melakukan apa untuk Indonesia?

Komentar