Panen Rumput Laut di Kepulauan Seribu

Rumput laut di Kepulauan Seribu (difotoin Imawan Anshari)

Kamu tahu enggak? Rumput laut kering yang layak jual itu standarnya adalah, jika kita remas kuat-kuat akan sakit di tangan, bukan malah rumput lautnya yang hancur. Masyarakat di kepulauan seribu saat ini salah satu mata pencahariannya adalah sebagai petani rumput laut. Kenapa mata pencahariannya budidaya rumput laut? Karena rumput laut nih padat karya tetapi tidak padat modal, karena modalnya memang tidak besar, lahannya pun di laut, yang cukup dijaga kebersihannya. Modalnya tali, botol plastik bekas, kapal, dan bibit rumput lautnya.

Pemberdayaan ini dibina oleh YBM PLN dan Niru Nabi, bukan sekadar menghasilkan rumput laut dan produk turunannya, tujuan utamanya adalah membentuk  usaha keluarga, jadi rumput laut yang dihasilkan enggak cuma dijual sebagai bahan mentah, tapi juga sebagai bahan setengah jadi, dan produk jadi. Seperti dibuat manisan rumput laut, atau semacam dodol warna-warni.

Manisan rumput laut (dokpri)

Om Salman Alfarisi dan Pak Martono yang memegang dodol rumput laut. (dokpri)

Es campur rumput laut (dokpri)

Setelah sempat terhenti puluhan tahun, kini mereka mulai lagi budidaya rumput laut, kendalanya saat ini adalah pemasarannya. Pembelinya sudah ada, namun masih sedikit, dan jangkauannya pun masih kecil. Produk-produknya masih belum ada merek, pun kemasannya masih sangat standard. Ibu Endah kasih sedikit masukan, seperti pentingnya SIUP dan P-IRT, selain membuktikan bahwa produk itu aman, pun akan sangat membantu untuk pemasarannya. Biasanya kalau sudah ada label merek, lalu dicantumkan nomor P-IRT serta logo halal, Insya Allah pangsa pasar akan semakin luas.

Ibu-ibu yang mengolah panganan berbahan rumput laut di Kepulauan Seribu. (dokpri)

Foto bersama di tengah laut menuju semak daun.

Kendalanya di pulau adalah, sulitnya mengurus administrasi perizinan nomor produksi, HAKI, bentuk kemasan juga pencetakan label. Semua itu harus mereka lakukan di darat, karena di pulau belum ada apa-apa yang dibutuhkan itu. Dan, semua itu butuh usaha yang enggak sedikit, ongkosnya mahal, belum biaya cetak, mengurus berkas ini-itu, jadi seharusya ada yang membantu mereka, sih.

Rumput laut yang dibudidayakan ini jenis spinosum, puluhan tahun lalu yang dipakai adalah jenis cottoni. Namun, saat ini jenis cottoni tidak bisa ditanam di wilayah itu, entah belum ada penelitiannya. Jenis spinosum ini masih satu spesies dengan rumput laut merah. Bentuknya silindris, bercabang dan ujung-ujungnya runcing, warnanya agak cokelat. Warnanya terkait dengan kemampuan adaptasi karomatik si rumput laut terhadap intensitas cahaya matahari. Di Indonesia sendiri, selain di kepulauan seribu ini, ada di Madura – Sumenep – Bali, kalau di sana sudah untuk ekspor besar-besaran.

Sekali lagi, masalah administratif di kepulauan seribu ini yang masih sulit, perwakilan KADIN pun enggak ada, lalu bagaimana untuk mendukung semua hasil produksi penduduknya?
Dinas UKM, ekonomi kreatif, dan industri di kepulauan seribu menjadi satu. Ini menjadi kesulitan tersendiri, lho. Bingung bagaimana harus mengikuti pemerintah, panen saat ini dengan pimpinan A, dan panen berikutnya bisa saja sudah berganti pimpinan, dan sangat memungkinkan adanya regulasi baru yang ditetapkan.

Harga rumput laut spinosum kering asin putih sekilo Rp 6.000, yang kering tawar putih Rp 25.000, itu harga langsung dari petaninya. Nah, kalau jenis cottoni basah sekilonya Rp 6.000. Tahun depan, Insya Allah akan menggunakan bibit cottoni, apakah bisa lebih bagus dari spinosum? Ya, kita tunggu saja.

Bupati Kepulauan Seribu, Bapak Husein M. menyambut baik program pemberdayaan YBM PLN dan Niru Nabi di Kepulauan Seribu. Beliau menyampaikan bahwa, banyak potensi kepulauan seribu yang belum tergali sepenuhnya, dan mata pencaharian utama penduduk yang dulunya adalah nelayan dan petani rumput laut, saat ini banyak yang bergeser ke bidang pariwisata bahari. Profesi sebelumnya tidak menghilang, tetap ada dan menjadi beragam mata pencaharian di Kepulauan Seribu.

(Ki-ka): Om Salman Alfarisi - YBM PLN, Reni Fendriani - Niru Nabi, Bpk. Husein Murad - Bupati Kepulauan Seribu, Emas Rahayu - Niru Nabi, dan Bpk. Junaedi - Wakil Bupati Kepulauan Seribu. (dokpri)

Panen rumput laut bersama-sama perwakilan YBM PLN, Niru Nabi, dan Bupati dan Wakil Bupati Kepulauan Seribu. (dokpri)

Amin Darsono - Niru Nabi dan Salman Alfarisi - YBM PLN panen rumput laut di Pulau Seribu. (dokpri)

Pak Martono - Ketua Bidang II YBM PLN dan Istri, panen rumput laut di Pulau Seribu. (dokpri)

Panen rumput laut kali ini bukan sekadar panen rumput laut, tapi juga ada ceremony penyerahan sampan untuk menanam dan panen rumput laut dari YBM PLN dan Niru Nabi ke petani rumput laut. Sampan ini kecil dan pakai dayung, jadi bisa masuk ke tengah-tengah semak daun dan tidak merusak rumput laut.

Ceremony serah terima bantuan sampan untuk petani rumput laut Kepulauan Seribu. (dokpri)

Di atas sempat aku singgung laut yang bersih kan, ya? Nah, ini juga ada kegiatan bersih pantai, kami bersihkan pantai dari sampah-sampah plastik, sampah yang paling banyak berasal dari minuman kemasan, sedih juga lihatnya, ini baru di pinggiran pantai yang enggak seberapa panjangnya.

Kegiatan bersih pantai oleh YBM PLN, Niru Nabi, Dompet Sampah, dan penduduk sekitar. (dokpri)

Di Kepulauan Seribu sendiri ada yang namanya gerakan bersih, semua pihak diharapkan ikut terlibat dalam memelihara kebersihan di Pulau Seribu, tapi masalahnya, sampah yang sampai ke sana bukan berarti penduduk yang membuang sampah, karena laut di sana adalah muara dari 13 sungai. Yah, bisa saja kan, sampah itu asalnya dari Bogor dan terbawa arus sampai laut Jakarta.

Inilah kenapa semua pihak terlibat, karena sekalipun penduduk Pulau Seribu sudah sangat menjaga kebersihan laut, akan tetap ada sampah yang datang dari jauh. Sampah di laut Jakarta bukan lagi tanggung jawab penduduk sekitar, tapi tanggung jawab semua pihak.

Difotoin Dewi Nuryanti

Kuy, jaga kebersihan laut kita, efeknya luas, lho, bahkan sampai ke kualitas rumput laut yang kita konsumsi.

Komentar