Budidaya Rumput Laut di Laut Jakarta yang Tenang

Rumput laut, seperti namanya, dia tumbuh di laut, terombang-ambing di tengah laut. Mereka dinamakan rumput, tapi enak. Rumput laut ada banyak jenisnya, tergantung juga dari mana dia berasal atau di wilayah laut mana di ditanam. Selama ini, aku kalau makan rumpu laut selalu kiriman dari Jawa Timur, dan itu jarang banget dikirimin kalau enggak minta atau dibawakan sebagai oleh-oleh.


Tapi, pasokan rumput laut nantinya enggak cuma dari Jawa Timur, di laut Jakarta juga ada budidayanya. Di tengah laut Jakarta. Percayalah, Jakarta punya wilayah laut yang bersih dan bening, cocok untuk budidaya rumput laut. Beberapa waktu lalu aku berkesempatan ikutin kegiatan YBM PLN ke Kepulauan Seribu, aku datang ke Pulau Pramuka dan Pulau Panggang.

Kegiatannya itu penyuluhan dan pembimbingan dari YBM PLN dan Niru Nabi ke para nelayan rumput laut di Kepulauan Seribu. Sistem pembagiannya itu perpetak, satu petak 15x15 meter, satu petak untuk satu kelompok, saat ini baru dibentuk 5 kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari 20 orang.


Pak Noval dari kelompok nelayan budi daya rumput laut menerangkan bahwa, dalam satu petak lahan itu bisa menampung 280kg bibit rumput laut. Dalam budidaya, yang dilibatkan bukan hanya kepala keluarga, tapi juga anggota keluarga lainnya, anak dan istri. Budidaya rumput laut bukan hanya penanaman di laut, tapi juga melalui proses pembibitan di darat yang dilakukan oleh anggota keluarga lainnya, terus proses penanaman untuk bapak-bapak, pengeringan, penjemuran, dan pengolahan melibatkan keluarga.


Jatuhnya jadi bisnis keluarga, kalau keluarga sejahtera, berarti budidayanya sukses. Pembinaan yang dilakukan YBM PLN, pembinaan keilmuan, story telling kesuksesan dari wilayah lain. Dibantu pembuatan bibit dan segala macam. Nah, untuk masa panennya sendiri itu 40-45 hari sejak penanaman. Selain di Pulau Panggang, budidaya rumput laut juga dilakukan di Pulau Tidung dan Pulau Pari.

Cuaca sekarang, kan lagi panas banget, ya. Ternyata kata Pak Rojali---salah satu nelayan budidaya rumput laut---saat ini cuacanya terlalu panas, saat yang baik budidaya rumput laut adalah musim hujan, karena suhu di permukaan dan dalam laut akan sama. Kalau cuaca panas, bagian permukaan dan bagian bawah akan berbeda suhu. Hasil panen berpengaruh, kena hama, tahu enggak hamanya rumput laut itu apa? Pasir!


Setelah panen, langsung ditanami lagi bibit yang baru, enggak perlu jeda waktu, karena dia medianya air laut, bukan tanah. Budidaya rumput laut harus di wilayah goba, yaitu bagian tengah yang ombaknya sedikit, bisa dibilang wilayah air tenang, dengan begitu rumput laut yang dihasilkan bagus, pun besar-besar. Kenapa tanamnya harus di tengah laut? Karena musuh terbesar para nelayan ini adalah angin barat yang bisa menghancurkan tanaman rumput laut, bisa putus semua tali yang mengikat rumput laut. Oh, ya, lahan yang paling luas untuk budidaya rumput laut itu di Pulau Panggang dan Pulau Pari.

Rumput laut yang ditanam di goba hasilnya besar-besar, kalau yang ditanam di tubir lebih halus, hanya sebesar lidi. Eh, info penting! Budidaya ini baru dilaksanakan lagi setelah 20 tahun sempat terhenti karena bibitnya enggak ada, kalaupun ada, ya jelek. Baru di pertengahan tahun 2019 ini para nelayan menanam rumput laut lagi, sebelumnya mereka budidaya ikan kerapu atau mencari ikan hias, sampai sekarang masih ada beberapa lokasi budidaya ikan kerapu yang aku temui, masih berdekatan dengan lahan rumput laut. 


Pak Rojali bilang, program YBM PLN ini cukup membantu, yang penting kita sebagai manusia memiliki kemauan, dan pasti ada jalan. 

Pembinaan budidaya ini harapannya enggak cuma di penanamannya saja, tapi juga ke proses pengolahan dan pendistribusiannya. Jika pembinaan sudah berjalan lancar, budidaya juga sudah stabil, akan dibentuk koperasi yang nantinya memfasilitasi untuk transaksi kebutuhan rumput laut ke pasar yang lebih luas. Kalau sudah mencapai 80% dari total 230 orang jumlah petaninya, barulah akan dibuat koperasi.

Diharapkan, budidaya rumput laut ini bukan sekadar menanam saja, tapi juga bisa bisa memberi nilai tambah, menjadikan rumput laut sebagai produk jadi, enggak lagi dijual sebagai bahan mentah secara keseluruhan hasil panen, minimal sebagai produk setengah jadi. 



Sekarang nelayan budidaya baru 100 orang, bukan enggak mau lebih banyak, tapi untuk contoh terlebih dahulu, supaya fokus, dan nantinya akan menarik lebih banyak nelayan di sana untuk membudidayakan rumput laut. YBM PLN dan Niru Nabi awalnya mengumpulkan 100 nelayan, dibina dan dibimbing sampai di pengelolaan di rumah tangga.

YBM PLN memberikan subsidi, bantuan berupa pinjaman perahu kano satu buah untuk setiap kelompok, barang modal lainnya itu berupa tali, pelampung yang memanfaatkan botol plastik bekas, juga bibit. Perahu kano dipinjamkan, supaya tetap menjadi tanggung jawab YBM PLN, jadi kalau rusak, akan diurus oleh YBM PLN. 

Salah satu kendala yang perlu perhatian khusus itu dalam hal transportasi. Ongkos atau biaya angkutnya cukup mahal. Wajar jika harga sembako di pulau lebih mahal 30% dibanding harga di darat. Dan, saat ini kebutuhan untuk kuota ekspor masih diambil dari luar Jakarta. Nah, kalau yang di kepulauan seribu ini sudah bisa memenuhi kuota ekspor, akan jauh lebih murah biayanya.

Hubungan YBM PLN dengan Niru Nabi adalah mitra, dan para nelayan merupakan binaan keduanya. Setiap minggu dipantau, bagaimana perkembangannya. Namun, hasil yang didapat oleh para nelayan 100% untuk mereka sendiri, tidak ada pembagian berapa persentase dengan YBM PLN maupun Niru Nabi, yang penting ada hasilnya, dan menyejahterakan. Jika terlihat hasil yang berkali lipat, YBM PLN siap menambahkan permodalan. Bahkan, ke depannya akan sangat mungkin satu petak lahan itu bukan lagi untuk satu kelompok, tapi untuk satu keluarga.

Untuk penggunaan lahan sendiri masih bebas, enggak ada perizinan pemda atau setingkatnya. Nah, di sini lah koperasi yang nantinya akan dibuat, mengambil perannya sebagai kontribusi untuk negeri. Kendala lain dalam budidaya rumput laut adalah penurunan fungsi lahan, seperti tercemar limbah, dan sampah. Laut Jakarta itu menjadi tempat akhir pembuangan, kalau kita buang sampah di Bogor, akan bermuara di Jakarta, gitu lah ibaratnya. Menghadapi musim masih gampang, bisa diatur, kawasan pun terlindung karang, jadi ombak tidak berpengaruh, yang sulit adalah kerusakan lingkungan yang dilakukan manusia.


Jadi, kuy lah kita jaga lingkungan dimuali dari diri seniri, enggak buang sampah sembarangan, sekalipun sampah semut. Tahu, kan operasi semut???

Komentar