Jadi ceritanya ada orang punya rumah kecil, karena dia rajin dan pekerja keras, akirnya rumahnya jadi mewah. Rumah yang awalnya hanya sekadar tembok berdiri, berubah jadi bagus sekali, tidak seperti istana tetapi besar seperti kastil-kastil dalam dongeng yang kalian dengar saat kecil. Rumah mewah ini selain besar juga dilengkapi gerbang yang sesuai besarnya dengan bangunan, saking besarnya rumah itu dia mampu mempekerjakan banyak pegawai, di rumah itu ada banyak pekerjaan yang membutuhkan berbagai keahlian, dari penjaga pagar, tukang kebun, bagian perawatan rumah, sampai koki yang diminta menyediakan hidangan untuk semua tamu yang datang.
Tiba saatnya kepengurusan rumah secara keseluruhan diwariskan pada keturunannya. Seolah telah lama menahan nafsu, setelah diberikan hak penuh, pewaris melakukan perombakan yang cukup signifikan, bisa dibilang besar-besaran di berbagai aspek sampai para pegawai di rumah ikut merasakan dampaknya, seperti halnya Yin Yang, positif dan negatif selalu beriringan.
Bahwa tidak hanya rumah dalam bentuk bangunan yang diubah, pewaris mulai berpikir untuk memanfaatkan sisi lain rumah sebagai sesuatu yang baru, yang dianggap akan menjadi nilai tambah rumahnya itu, agar tamu yang datang tidak hanya bisa menikmati taman dan sajian tetapi ada hal lain yang membuat tamu lebih suka berlama-lama dan kembali datang.
Dia buka sayembara untuk siapa yang bisa mewujudkannya. Datanglah berbagai ide dari penjuru kota, para ahli berpengalaman menunjukkan konsep dengan detail, semua dibuat dan disajikan dengan yang terbaik untuk menarik perhatian pewaris dan memenangkan sayembara tersebut. Dari sekian banyak pembawa ide, ada beberapa yang sangat bagus, bukan hanya penjelasannya tetapi juga jika diimplementasikan akan memberikan dampak positif untuk rumah yang terlihat mewah itu.
Tanpa diduga, ide itu tidak langsung diterima atau ditolak oleh pewaris, mengejutkan saat pewaris justru melemparkan hak prerogatif itu ke pegawainya. Pewaris memang menyimak penjelasan tetapi seolah tak paham apa yang dihadapkan padanya, seolah ide sayembara itu tidak berasal dari hasil pemikirannya. Menjadi sebuah kesalahan fatal mendelegasikan masa depan pemanfaatan rumah pada yang bukan pemiliknya. Seharusnya selain pewaris hanya bertugas sebagai konsultan, bukan pengambil keputusan.
Mungkin idenya terlihat sepele bagi pewaris, mungkin juga pewaris tidak paham mana batasannya. Hal kecil ini juga yang jadi benang merah bagaimana secara impulsifnya pewaris melakukan perubahan besar pada rumahnya. Mungkin ada tujuan tersembunyi, mungkin juga hanya kurang pengalaman, sayangnya hal ini yang justru bisa menghancurkan warisan rumah mewahnya itu.
Entah ada apa di dalam sana, sesekali ada keributan yang terdengar dari luar, tidak lama akan reda begitu saja, dan akan terulang pada waktu-waktu tertentu. Ulah beberapa pegawai juga membuat suasana rumah itu seolah diselimuti asap tebal, dari luar tidak terlihat sesuatu yang aneh, tapi jika sekali saja kita menginjakkan kaki ke dalamnya, semua akan terlihat, pegawai yang asal bekerja, sekadar menggugurkan kewajiban. Standar Operasional Prosedur (SOP) yang diberikan pemilik rumah hanya jadi alas kaki.
Bisa dibayangkan bagaimana jika penjaga pagar tidak melakukan SOP dengan benar? Jangan dibandingkan dengan satpam BCA, jika bisa diberi level angka rentang 1-10, penjaga gerbang rumah itu di level 0.5, sedangkan satpam BCA di level 12.7. Para penjaga gerbang memanfaatkan dengan maksimal pos penjagaan ayng disediakan, dan mereka memanfaatkan dengan baik untuk menyandarkan punggungnya kekursi empuk, melepas sepatunya setiap saat agar pijakannya menyentuh dinginnya lantai keramik pos, pakaian dinas yang tergantung rapi di belakangnya, ditemani secangkir kopi dan beberapa teman satu profesi, bertahan berjam-jam hingga waktu selesai bekerja. Jika ada tamu, indera pendengaran mereka seolah tertutup rapat beberapa saat, cukup jika kamu ingin membuat indomie kari ayam kesukaanmu itu. Apakah pewaris tahu ini? Kurasa tidak, entah, perasaanku mengatakan itu.
Lalu ada tukang kebun, SOPnya merawat taman agar rumah terlihat indah dengan halaman dan taman bunga yang menawan, sudah ada daftar jenis tanaman yang harus ditanam, tetapi tukang kebun hanya menanam sesuka hati tanaman yang dia temui di pinggri jalan, bukan tanaman terbaik, perawatan kebun hanya mengandalkan air hujan dan hama. Pewaris tahu? Seharusnya tahu, karena terlihat jelas pekarangan yang dari luar pun tampak, jika pewaris diam saja artinya pimpinan tukang kebun pintar menyusun kalimat.
Bagian perawatan rumah juga hanya melakukan tugasnya jika berada dalam tangkapan mata pewaris, jika tidak berada dalam pantauan, para pegawai perawatan rumah menikmati kopi di bawah pohon yang ditanam tukang kebun. Debu yang menempel pada dekorasi rumah baru akan dibersihkan jika akan ada tamu tertentu yang datang, fasad rumah tampak kinclong, tetapi ada sisi lain yang dipenuhi blackmold, jamur hitam di tembok yang perlahan meracuni seluruh penghuni rumah, bahkan tamu bisa terpapar. Pewaris tahu? Hanya sebagian yang dia tahu, dia akan memberi perintah penanggulangan tetapi tidak pernah dia pelajari bagaimana hal itu bisa terjadi, bahkan dia tidak tahu dari mana debu bisa masuk ke dalam rumah mewah itu.
Bagian pekerjaan yang sudah disebut tidak tidak membawa bahaya secara langsung, lain halnya dengan satu bagian krusial ini, yaitu koki. Jika koki tidak mengikuti SOP dalam penyajian makanan, tamu akan menelan banyak bakteri bahkan tidak memungkinkan racun akan masuk juga, karena koki tidak menyajikan hidangan sesuai dengan arahan.
Untuk makanan, bukan sekadar rasa yang enak, tetapi juga dari pemilihan bahan baku, pembersihan, hingga cara mengolahnya. Koki tidak hanya satu, ada banyak sesuai spesialisasi, dari pastry, appetizer, main course, sampai dessert punya koki masing-masing, beda menunya akan berbeda pula kokinya, beda asal makanan akan beda koki yang menyiapkan.
Sayangnya ada saja koki nakal yang mencoba mengambil alih keahlian koki lainnya, tanpa rasa bersalah meskipun hasil hidangannya sangat tidak layak untuk dimakan, tamu terpaksa menyantapnya karena mereka dijanjikan akan dapat makanan jika masuk rumah mewah itu.
Jangan salah, koki yang begitu bersemangat juga bisa melakukan kesalahan, makanan yang mereka olah bisa saja belum matang atau justru terlalu matang, kondisi keduanya membuat makanan yang disajikan tak layak dimakan bahkan disajikan. Koki yang melakukan kesalahan fatal, ada yang dipecat ada yang di-skorsing saja, bukan seberapa besar kesalahannya atau siapa tamu yang dirugikan, tapi tergantung seberapa dekat hubungan koki dengan pewaris dan leluhurnya.
Dari banyaknya koki di sana, yang betul-betul mengolah bahan makanan dengan baik dan bertanggung jawab jauh sekali perbandingannya, bisa jadi hanya ada 3 dari 10 koki, ini hanya angka tebakan, belum ada data validnya, mungkin lebih banyak atau lebih sedikit. Pewaris tahu? Ya, jelas, karena terkait dengan citra rumah mewahnya.
Aku lebih curiga bahwa dia bukan tidak tahu soal apa saja yang terjadi meskipun sebesar biji zarah, tepatnya dia tidak terlalu peduli, jika menurutnya tidak terlalu berdampak pada dirinya, dia akan abaikan, terlebih jika dia selalu punya perasaan super power, merasa dia sangat dibutuhkan oleh pegawai dan tamu-tamunya, merasa selalu akan ada yang singgah di rumah mewah itu. Aku sempat curiga dia tidak mengerti apa yang sedang dia lakukan pada rumah warisannya itu.
Yang ada di pikiranku sekarang adalah, apakah pewaris ini adalah sebenarnya pewaris keturunan darah murni?
Terima kasih sudah membaca hingga akhir cerita tentang rumah dan pewarisnya ini, tapi andai kamu tahu ini bukan tentang rumah.
WD, 160326

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih sudah masuk ke blog ini, sila tinggalkan komentar.
:)